Senin, 08 Juni 2026

Sudah Siapkah Menghadap Sang Pencipta ?

oleh : Machfudh

Fase peradaban dunia tegah menuju ke arah akhir zaman, dimana kondisi tersebut merujuk pada tanda-tanda akhir zaman, yaitu mencakup perubahan social dan alam yang terjadi saat ini. Menurut ajaran Agama Islam, fenomena ini meliputi maraknya perbuatan maksiat, berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit, waktu yang terasa cepat berlalu, serta merajalelanya kebodohan dan fitnah. Beberapa Ayat Al Qur’an dan hadits-hadits shahih telah menginformasikan, bahwa kiamat (akhir zaman) sudah dekat, bahkan munculnya Sebagian tanda-tanda kiamat merupakan bukti akhir zaman sudah di depan pintu.

Sejumlah fenomena yang sering dikaitkan sebagai gambaran dari akhir zaman, yaitu antara lain; Pertama, Erosi Moral dan Agama, tersebarnya perzinaan secara terang-terangan dan meningkatnya tindkan kekerasan atau pembunuhan. Kedua, Pergeseran Gaya Hidup, banyaknya orang yang lebih mementingkan kemewahan duniawi, termasuk maraknya fenomena masyarakat dari kalangan menengah ke bawah yang kini ikut berlomba-lomba mendirikan bangunan tinggi.

Ketiga, Ketidakstabilan Dunia, terangkatnya ilmu agama karena wafatnya para ulama, digantikan oleh tersebarnya kebodohan dan pemahaman yang dangkat Dan Keempat, Perubahan Waktu dan Alam, waktu yang terasa berjalan semakin singkat, serta perubahan iklim drastis yang membuat wilayah, seperti jazirah Arab kini menghijau dan ditumbuhi pepohonan.

Ayat-Ayat dan Hadits yang menjelaskan akhir zaman atau kiamat sudah dekat, yaitu sebagai berikut;

Surat Al Anbiya Ayat 1,

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari ini menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengingatkan bahwa hal ini merupakan suatu peringatan dari Allah SWT yang menyatakan dekatnya hari kiamat dan bahwa manusia dalam keadaan lalai terhadap keberadaannya, yakni mereka tidak mau beramal dan tidak mau membuat bekal untuk menyambutnya.

Makna Ayat Al Anbiya, sama dengan apa yang disebutkan dalam Ayat lain, yaitu Surat An Nahl Ayat 1,

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوهُ

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan (datang).”

Dalam Surat Al Qamaar Ayar 1 – 2,

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata; (ini adalah) sihir yang terus menerus.”

Dalam Surat Al Ahzaab Ayat 63,

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah; “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari kebangkitan itu sudah dekat waktunya.”

Dalam Surat Al Ma’aarij Ayat 6 - 7

اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil).”

وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ

“Sedangkan Kami memandangnya dekat (mungkin terjadi).”

Ayat ini menjelaskan tentang sikap manusia yang sering menganggap remeh datangnya Hari Kiamat atau Azab Allah SWT, padahal menurut Allah SWT peristiwa tersebut sudah sangat pasti dan dekat.

Ayat ini merupakan bentuk peringatan bagi orang-orang kafir yang ingkar dan menganggap mustahil datangnya hari kebangkitan karena mereka mengukurnya dengan logika duniawi. Allah menegaskan bahwa bagi-Nya, segala hal yang telah ditetapkan pasti terjadi, dan jarak waktu bukanlah penghalang bagi kekuasaan-Nya.

Sedangkan dalam beberapa hadits tentang Kiamat sudah dekat, disampaikan Rasulullah SAW dalam sejumlah haditsnya, Nabi Muhammad SAW bersabda;

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا

“Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini, “Beliau berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah)”, lalu merenggangkannya.”
(H.R. Shahih Al Bukhari)

Nabi SAW bersabda;

بُعِثْتُ فيِ نَسْمِ السَّاعَةِ

“Aku diutus pada awal hembusan anging kiamat.”
(H.R. Ad Daulabi)

Rasulullah SAW juga bersabda;

إِنَّمَا أَجَلُكُمْ -فِي أَجَلِ مَنْ خَلاَ مِنَ اْلأُمَمِ- مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ

“Sesungguhnya ajal kalian jika dibandingkan dengan ajal umat terdahulu adalah seperti jarak Shalat Ashar dan Shalat Maghrib.”
(H.R. Bukhari)

Dan, diriwayatkan dari Ibnu Umar R.A, beliau berkata;

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالشَّمْسُ عَلَـى قُعَيْقِعَـانَ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَالَ: مَا أَعْمَارُكُمْ فِي أَعْمَارِ مَنْ مَضَى إِلاَّ كَمَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ فِيمَا مَضَى مِنْهُ

“Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi SAW sementara matahari berada di atas gunung Qu’aiqa’aan setelah waktu ‘Ashar, lalu beliau bersabda, ‘Tidaklah umur-umur kalian dibandingkan dengan umur orang yang telah berlalu kecuali bagaikan sisa hari (ini) dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu.’” (Musnad Ahmad)

Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa waktu yang tersisa sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Ta’ala.

Dalam kitab " An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim" juga dikatakan belum pernah ada satu riwayat pun dengan sanad yang shahih dari Rasulullah SAW yang menerangkan batasan waktu dunia sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan agar diketahui sisa waktu yang ada. Tentunya waktu sisa ini sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu.

Tidak ada sebuah ungkapan yang lebih jelas tentang dekatnya hari Kiamat daripada sabda beliau SAW:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي

“Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat secara bersamaan, hampir saja dia mendahuluiku”
(Musnad Ahmad (V/348, Muntakhabul Kanzi), dan Taariikhul Umam wal Muluuk (I/8), karya ath-Thabrani)


Sekelumit pemaparan mengenai Akhir Zaman diatas, tentunya muncul pertanyaan dalam diri, Sudah Siapkah Menghadap Sang Pencipta ?

Pertanyaan tersebut hanya diri masing-masing yang mampu menjawab. Namun terlepas dari itu semua, sedikit informasi yang mungkin bermanfaat bagi diri sang fakir ini, dan juga bagi para pembaca. Dimana sudah saatnya tuk intropeksi diri, terutama terkait dengan kenapa manusia diciptakan di muka bumi ini, tentunya Allah SWT tidak serta merta menciptakan manusia dan segala isinya, serta semua yang ada di alam semesta. Semua itu, Allah SWT menciptakan manusia dan segala isinya di bumi dengan tujuan utama ‘agar manusia beribadah (mengabdi) kepada-Nya’.

Penjelasan mendasar mengenai tujuan penciptaan ini, tertuang dalam Kitab Suci Al Qur’an, yaitu pada Ayat-Ayat, sebgai berikut;

Surat Adz Dzariyat Ayat 56, dijelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia secara spesifik, yakni untuk beribadah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Point utama dari ayat diatas, yaitu pertama tujuan hakiki, menurut para mufasir, ibadah yang dimaksud bermakna mentauhidkan (mengesakan) Allah SWT dan tunduk taat sepenuhnya kepada segala perintah dan larangan-Nya. Kedua bukan kebutuhan Allah SWT, dimana Allah SWT tidak membutuhkan ibadah dari hamba-Nya, justru ketaatan dan ibadah tersebut mendatangkan manfaat dan keselamatan bagi manusia itu sendiri di dunia maupun di akhirat.

Surat Al Baqarah Ayat 30, menjelaskan tujuan manusia diciptakan sebagai khalifah (pemipin/pengelola) di bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Allah berfirman, ‘Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”

Isi pokok dan makna dari ayat ini, menjelaskan awal penciptaan manusia (Nabi Adam AS), dan menegaskan tugas mulia manusia di bumi, yaitu; pertama Posisi Manusia, yang ditunjuk sebagai khalifah (pemimpin atau pengelola) di bumi untuk memakmurkan dan mengatur kehidupan sesuai dengan aturan Allah SWT.

Kedua, Dialog Malaikat dan Allah SWT, malaikat sempat mempertanyakan penciptaan manusia karena khawatir manusia akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah. Dan ketiga, Hikmahnya, Allah SWT Maha Mengetahui hikmah dan potensi besar manusia, yang dibekali akal dan ilmu pengetahuan untuk mengemban Amanah di bumi.

Surat Al Mulk Ayat 2, menjelaskan fungsi bumi sebagai ujian bagi manusia. Ditegaskan didalam ayat tersebut, bahwa Allah SWT menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia, tujuannya adalah untuk melihat dan menilai siapa di antara manusia yang memiliki amalan paling baik, yakni yang paling ikhlas dan paling benar.

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“Yang menjadikan mati dan hidup supata Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ (Yang menciptakan mati dan hidup), Allah mendahulukan penyebutan ‘Kematian’ sebelum ‘Kehidupan’ untuk mengingatkan manusia, bahwa kematian adalah kepastian yang sangat dekat dan awal dari perjalanan yang sesungguhnya.

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا (Untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya), ujian di dunia ini bukan tentang seberapa banyak amal, melainkan kualitasnya. Amal yang baik adalah yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah SWT dan benar sesuai tuntunan.

وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun), Allah SWT Maha Perkasa dalam kuasa-Nya, namun Dia juga Maha Pengampun terhadap hamba-Nya yang bertaubat dan memperbaiki diri.

Untuk menggali makna dan hikmah yang lebih dalam dari ayat-ayat tersebut, Anda dapat merujuk pada kitab-kitab tafsir utama seperti;

  • Tafsir Ibnu Katsir, Menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia semata-mata untuk ketaatan, bukan karena Allah membutuhkan manusia.
  • Tafsir Al-Misbah (karya Prof. Quraish Shihab), Mengulas dimensi spiritual dan sosial manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.
  •  Tafsir Al-Azhar (karya Buya Hamka), Menjabarkan tanggung jawab manusia di bumi sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an.


Tidak ada komentar: