Minggu, 29 Juni 2014

Mengembalikan Hakikat Islam

Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun sampai saat ini belum tersosialisasikannya nilai-nilai Islam di masyarakat. Masih jelasnya perbedaan di tengah umat kita dalam memilah-milah perbuatan itu ibadah atau tidak. Adakalahnya kita mendalami suatu ilmu pengetahuan, sayangnya tidak diimbangi dengan mendalami  ilmu agama.

 Itulah permasalahan yang segera dibenahi, bila tidak maka umat Islam akan terus mengalami kemunduran. Permasalahan yang tidak utuh, masih sering kita besar-besarkan. Bahkan masih banyak yang gemar memperbincangkan masalah yang furu’I, masalah yang kecil-kecil, ini mahzab saya dan ini tidak, ini Islam tradisional dan itu Islam moderat.

Akan tetapi ada hal yang lebih penting dari semua itu, bagaimana kita menyelami nilai-nilai Islam dalam semua sisi kehidupan? Itu perlu penggalian konsep-konsep keislaman yang lebih banyak lagi. bagaimana ekonomi Islam, manajemen Islam, politik Islam, pendidikan Islam dan sebagainya. Semua itu bisa terealisasi jika kita mau memperluas wawasan kita, menuntut ilmu dengan lebih tekun lagi.

Belajar, belajar, dan belajar… inilah saatnya zaman kebangkitan Islam. Insya Allah.


Mengenal Islam, Harus Mengenal Jahilliah Dahulu

Sebuah ungkapan yang mungkin tidak asing ditelinga. Seseorang tak akan mengenal Islam, jika ia tidak mengenal Jahilliah. Tapi sayangnya, kita sering menggagap sepele istilah Jahilliah, padahal kita belum memahami secara mendalam arti dari jahilliah itu sendiri.

Banyak orang yang beranggapan, bahwa jahilliah hanya datang sebelum Islam di Jazirah Arab. Sehingga ditentukan dengan sebuah kondisi masyarakat yang pernah ada sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul.

Inilah yang menyebabkan banyak orang keberatan jika kondisi sekarang disebut Jahilliah Modern. Padahal jika diamati kondisi sekarang, tak ubahnya seperti kondisi yang terjadi di masa jahilliah di zaman sebelum Rasulullah diturunkan atau diutus.

Zaman ketika Islam belum diturunkan (di Jazirah Arab), kita bisa melihat realitas kehidupan yang pekat dengan warna jahilliah. Kejahilliahan yang terjadi pada masa pra Islam, merupakan kejahilliahan yang disebabkan oleh kebodohan, yaitu belum mengenal hakikat Tuhan.

Mereka mencari Tuhan dengan mewujudkan Tuhan dalam bentuk berhala atau apa saja, dan masa itu juga tidak ada tata sosial sehingga kerusakan timbul dimana-mana. Pembunuhan, perzinahan, dan mabuk-mabukkan bukanlah hal aneh di zaman itu.

Fanatisme tokoh dankabilah (suku/ras) yang akhirnya berakhir pada peperangan menjadi kemestian. Kerusakan moral yang terjadi saat itu terjadi secara vulgar tanpa kemasan apa pun.

Berbeda degan zaman sekarang. Manusia saat ini bangga dengan peradaban dan beradab. Kebobrokan moral dan kebodohan terbungkus oleh kemasan kebohongan yang indah. Sekarang kita lihat kecanggihan tekhnologi semakin menjauhkan pada hakikat penciptaan dari Allah SWT.

Atas nama seni, para wanita bertelanjang ria. Atas nama ketertiban masyarakat, pelacuran ditertibkan lewat pembangunan lokalisasi. Lebih gila lagi, demi pemasukan Negara (pajak), minuman keras menjadi legal dan halal bagi mereka yang berkantung tebal dan lemah iman.

Peperangan sengaja diletuskan, agar persenjataan laku. Nasionalitas yang sempit menjadikan Negara satu dengan yang lain saling berperang. Begitulah fenomena kejahilliahan yang terjadi pada masa pra-Islam, ternyata terjadi juga di masa sekarang, dimana-mana terjadi seperti yang terjadi pada masa jahilliah.


Kejayaan Islam

Sejak Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rasul, beliau menanamkan, menata dan memperbaiki umat saat itu dengan ajaran Islam. Sehingga kerusakan aqidah dan moral umat berubah pada kemulian. Dakwah Rasul tersebut diteruskan oleh para sahabat (Khulafaurasyidin).

Diawali masa Khalifah Umar bin Khattab, Islam telah berkembang sampai ke Persia, Syam, dan Maroko. Masyarakat muslim saat itu, benar-benar merasakan keadilan ajaran Islam. Bahkan Islam semakin berkembang dibawah naungan Bani Umayyah dan Bani Abasiah yang kemudian diteruskan oleh Khilafah Turki Utsmani.

Pencapaian puncak kejayaan Islam di bawah naungan Bani Umayyah dan Bani Abasiah itu, wilayah Islam terbentang dari Arab, Persia, Romawi, Eropa, dan daratan Asia dibawah naungan Islam selama empat abad.

Islam saat itu benar-benar tergambar di seluruh aspek kehidupan. Hukum Islam tegak, kehidupan masyarakat tertata rapi, bangunan masjid berdiri megah, pusat-pusat kesehatan bertebaran di mana-mana, pusat-pusat keilmuan berdiri disetiap sudut kota. Hajad hidup rakyat berupa pendidikan dan kesehatan diperoleh secara gratis, biaya ditanggung oleh Khalifah Islam saat itu.

Diwaktu yang sama, Eropa sedang tertidur lelap oleh doktrin-doktrin gereja. Apalagi saat itu muncul fatwa gereja (700 M) yang meramalkan akan terjadi kiamat pada tahun 1000 M. Akibatnya fatal, Eropa menjadi benua yang mati. Perkembangan peradaban Islam masa itu mulai masuk ke Eropa, sehingga membuka mata masyarakat Eropa.

Masa bangkitnya orang Eropa saat itu, sering disebut dengan masa Renaisance. Kebangkitan dilandasi pada dua hal, yaitu keinginan mengembalikan kejayaan Yunani (paganisme) dan Romawi (filsafati). Rasa dendam terhadap pemimpin gereja yang dianggap telah membohongi, dan dendam terhadap umat Islam yang telah menghancurkan peradaban Yunani dan Romawi.

Dengan latar belakang diatas, akhirnya Eropa mendapat kejayaan kembali dengan meninggalkan gereja (berketuhanan), dan memusuhi umat Islam yang telah mengajari mereka tentang peradaban, sehingga memunculkan perang yang berkepanjangan sampai sekarang.


Keruntuhan Islam

Uraian tentang kejayaan Islam diatas, kita ketahui bahwa Islam tegak dan jaya hingga mampu menebarkan Rahmat di seluruh alam semesta ini, tentunya dengan menjalankan Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

Sehingga peradaban tegak di atas Aqidah yang kukuh, dihiasi indahnya akhlak umatnya. Sudah menjadi fitrah manusia yang selalu terlena oleh nikmat dunia dengan harta dan kekuasaan. Dibalik kejayaan Islam saat itu, ternyata umat Islam terlena sehingga lambat laun jauh dari Al Qur’an. Mereka tenggelam oleh kemewahan harta dan perebutan kekuasaan.

Perang salib yang terjadi sampai tujuh kali berlangsung selama hampir satu abad, selalu dimenangkan oleh umat Islam, karena pada saat itu umat Islam masih berpegang teguh pada Al Qur’an, sekalipun kekuatan Nasrani dan Yahudi bersatu untuk memadamkan cahaya Islam.

Puncak kekalahan umat Islam, terjadinya peristiwa bersejarah pada tanggal 03 Maret 1924, Khalifah Turki Utsmani telah dihapuskan oleh umat Islam sendiri (Musthofa Kemal Pasha). Turki, waktu itu sebagai symbol kekuatan Islam, runtuh digantikan dengan system Barat yang dianggap lebih modern dan maju, yaitu dengan meruntuhkan pelaksanaan ajaran Islam.

Di Turki, saat itu sekolah Islam ditutup, simbol-simbol Islam (jilbab, bahasa Arab, Mesjid dll) di hapus. Dengan cara itulah umat Islam akhirnya terkalahkan.

Terbukti, saat ini umat Islam telah jauh dari ajaran Islam, sehingga mereka kehilangan identitasnya sebagai Muslim. Islam hanyalah sekedar Symbol, Islam identik dengan kebodohan, kemiskinan dan terpecah-belahnya negeri Islam.

Dari fenomena yang terjadi, penyebab runtuhnya bangunan umat Islam, ternyata tidak hanya karena serangan dari kaum kafir saja. Akan tetapi, karena semakin lemahnya umat Islam dalam berinteraksi dengan ajaran Islam yang dianutnya.

Berikut ini beberapa penyebab lemahnya Umat Islam, saat ini;

1.       Kondisi Umat Islam Dewasa ini Memprihatinkan.
Sebagian umat Islam telah jauh dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga kehilangan identitasnya sebagai seorang Muslim.

Mereka tidak lagi bangga dengan keislamannya, namun justru merasa aneh ketika melihat saudaranya yang taat menjalankan perintah agamanya dan memiliki komitmen terhadap keislamannya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar dari mereka (umat Islam) tidak memahami Islam itu sendiri, yang mempunyai sifat menyeluruh, meliputi segala aspek kehidupan.

Islam hanya dipandang sebagai ritual ibadah, identik dengan masjid, pengajian, dan sebagainya, yang semuanya identik dengan kelemahan, kebodohan, dan kemiskinan. Akibatnya umat Islam, benar-benar terjebak dalam kondisi kerusaakan Aqidah dan Akhlak (Moral).

Penyebab kerusakan umat Islam, adalah;

a.       Umat Islam Zholim terhadap Al Qur’an dan Sunnah Rasul
Sebagian besar Umat Islam, saat ini sudah tidak lagi menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk hidupnya. Al Qur’an tidak lagi dibaca dan tidak lagi dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, berbagai kerusakan dan kemunduran terjadi dalam tubuh umat Islam, tanpa bisa dibendung lagi.

Sangat sedikit di antara umat Islam yang membaca Al Qur’an dan konsisten membacanya. Diantara yang membacanya, sangat sedikit pula yang mengamalkannya. Kebanyakkan umat jahil dari Al Qur’an, bahkan berpaling kepada berbagai ideology yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

b.      Umat Islam Terkena Penyakit Wahn
Cinta dunia dan takut akan maut (kematian), hal ini dapat dilihat dari umat yang mempunyai pola pikir materialistis, praktis, dan hedonis jauh dari orientasi akhirat. Seperti yang termaktub dalam Al Qur’an (Q.S 9 : 38 – 41 dan Q.S 4 : 77 – 78).
38.  Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.
39.  Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
40.  Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.*)
41.  Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

*)  Maksudnya : orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi SAW, Maka Allah s.w.t. memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi SAW. karena itu Maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur.

(Al Qur’an Surah At Taubah, Ayat 38 – 41)

77. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka*) : "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: "Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun*).
78.  Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan*), mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan*) sedikitpun?

*)  Orang-orang yang Menampakkan dirinya beriman dan minta izin berperang sebelum ada perintah berperang.
*)    Artinya pahala turut berperang tidak akan dikurangi sedikitpun.
*)    Kemenangan dalam peperangan atau rezki.
*)    Pelajaran dan nasehat-nasehat yang diberikan.

(Al Qur’an Surah An Nisaa’, Ayat 77 – 78)

c.       Tidak Ada Ukhuwah, Kecuali Sedikit
Keperdulian terhadap sesama umat Islam sangat kecil. Umat di satu negeri hampir-hampir tidak memperdulikan keadaan saudaranya di negeri lain. Umat terkena pula penyakit Ananiyah (egois).
Baginya, keselamatan diri dan keluarga yang terpenting, orang lain belakangan. Padahal Rasulullah bersabda : “Tidak beriman salah seorang kamu, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Akibatnya, umat Islam menjadi sangat lemah. Musuh-musuh Islam dengan mudah menjajah dan menindas umat Islam, karena umat Islam di berbagai negeri hampir tidak saling peduli atau menolong bila sebagian ditimpa kesulitan.

2.       Pihak di Luar Islam (Kafir) yang Tidak Menghendaki Islam.
Yaitu adanya invasi pemikiran. Kekalahan beruntun pasukan kaum kafir dalam perang salib memberikan pelajaran kepada mereka untuk mencari strategi lain, yang lebih jitu untuk memerangi kaum muslimin.

Karena itu, kaum kafir saat ini menyerang kaum muslimin dari sisi aqidah dan akhlak. Setelah rusak aqidah dan akhlaknya, mudahlah bagi kaum kafir untuk mengendalikan kaum muslimin. Target akhir dari invasi pemikiran ini, adalah agar kaum muslimin memberikan loyalitasnya kepada kaum kafir.

Untuk mengubaj wajah umat Islam yang suram saat ini, diperlukan dakwah Islamiyah untuk menyingkirkan penyakit dalam tubuh umat Islam. Sehingga umat Islam menyadari tugas dan fungsinya yang seharusnya dijalankan di muka bumi ini.

Dakwah Islamiyah dengan membina kembali umat Islam (tarbiyah islamiyah), tidak sekedar symbol tanpa makna.

Solusi permasalahan tersebut, harus dimulai dengan memperbaiki diri sendiri dan beberapa hal yang harus diupayakan, adalah;
1.       Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sebagai pedoman hidup dengan membaca, mentadabburi, dan mengamalkannya.
2.       Membersihkan diri dari penyakit wahn dengan menanamkan niat yang kuat untuk berjuang di jalan Allah.
3.       Memperkuat Ukhuwah Islamiyah dimulai dari lingkungan yang kecil.
4.       Mempelajari konsep-konsep Islam, agar terhindar dari invasi pemikiran kaum kafir.

Mudah-mudahan bermanfaat. Amin. (Machfudh/Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar: