Sabtu, 28 Juni 2014

Mengenal Rasulullah SAW

Memang diakui umat Islam saat ini belum pernah bertemu dengan Nabi Muhammad. Sebagai umatnya kita harus mengenal Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul-Nya. Sehingga kita dapat mengetahui perjalanan dan perjuangan beliau dalam mensyiarkan agama Islam di muka bumi ini.


Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab. Sedangkan bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, Putra Nabi Ibrahim Al Khalil. Semoga Allah SWT melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Nabi Muhammad berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan "Iqra" yakni surah Al ‘Alaq Ayat 1 - 5, dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al Mudatstsir.

Tempat asal beliau adalah Makkah. Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada Tauhid.

Dalilnya, Allah SWT berfirman dalam Surah Al Mudatstsir Ayat 1 – 7;

Artinya : “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Pengertian surah diatas, “Sampaikanlah peringatan” ialah menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. “Agungkanlah Tuhanmu”, maksudnya mengagungkan Allah SWT dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata-mata.

Sedangkan “Sucikanlah pakaianmu” ialah sucikanlah segaka amalmu dari perbuatan syirik, dan “Tinggalkanlah berhala-berhala itu” artinya menjaukan dan membebaskan dirimu darinya serta orang-orang yang memujanya.

Rasulullah SAW melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih, selama sepuluh tahun, beliau mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun, beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepadanya shalat lima waktu.

Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Hijrah ini pengertiannya pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan islami.

Hijrah, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat. Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta'ala dalam Surah An Nissa Ayat  97 – 99;

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : ‘Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab : ‘Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para Malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu. Mudah-mudahan Allah memaafkannya, dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Dalam Surah Al ‘Ankabuut Ayat 56, Allah SWT berfirman menegaskan bahwa bumi itu luas;
 
Artinya : “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, Sesungguhnya bumi-Ku luas, Maka sembahlah aku saja.”

Al Baghawai 2, Rahimahullah, berkata : ‘Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman’.

Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah SAW. Artinya : “Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat”. (Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al Musnad, Jilid 4, Hal. 99. Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al Jihad, Bab 2, dan Ad Darimi dalam Sunan-nya, Kitab As Sam, Bab 70).

Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau; zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma'ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam lainnya. Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.

Inilah agama yang beliau bawa, tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi.

Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah. (Machfudh/Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar: