Sabtu, 06 Desember 2014

TIGA HAL TENTANG MULTIKULTURALISME

Sekjen Kemenag  Nur Syam menyampaikan, dalam upaya Pemerintah dan masyarakat membangun kehidupan berbasis multikulturalisme, setidaknya ada  tiga hal yang perlu diperhatikan.

Hal tersebut diungkapkan Nur Syam, saat memberikan materi pada acara Workshop Peningkatan Wawasan Multikultural, bagi Tokoh Perempuan Lintas Agama, mengusung tema Peran Perempuan Lintas Agama sebagai Benteng Kerukunan antar Umat Beragama, di kantor Kementerian Agama RI, Provinsi Bali, Kamis (04/12-2014).

Ketiga hal yang disampaikan Nur Syam adalah; pertama, masih ada di antara masyarakat yang hidup dalam satwa sangka. Hal ini bahkan tidak hanya terjadi di intern umat beragama, tapi juga ekstern umat beragama.

Menurutnya, banyak orang yang menganggap hanya agamanya yang benar, agama yang lain tidak boleh hidup, kalau perlu dihilangkan. “Itu karena asumsi agama saya (saja) yang benar,” jelas Nur Syam.

Setiap agama ada misterinya. Agama mengajarkan yang misterius, ada sesuatu yang diyakini, sesuatu yang bersifat keilahiaan. Mengutip  istilah KH Hasyim Muzadi, Nur Syam mengatakan, yang beda jangan disamakan, yang sama jangan dibedakan.

Hal yang kedua, masih ada sebagian orang beragama yang ingin menyebarkan agamanya kepada orang yang sudah beragama. Padahal, kita sudah mengetahui, tidak ada paksakan dalam agama (laa ikraaha fid-diin). Problemnya adalah bagaimana kita sejauh-jauhnya dapat menghindarkan diri, supaya tidak menyebarkan agama kita kepada yang sudah punya agama.

“Jika kita sudah memiliki keyakinan semacam itu, kerukunan itu akan tumbuh dengan baik,” kata Nur Syam.

Hal ketiga, terkait pentingnya terus memanage isu-isu aktual terkait agama. Nur Syam mencontohkan, Isu-isu HAM yang meributkan agama-agama baru, bahkan mengembangkan isu agama yang  sangat lokal.

Di Blitar, ada golongan yang mengajarkan, surga bisa diperjualbelikan. Bahkan, tambah Nur Syam, ada juga yang mengaku dirinya sebagai Nabi, dan sebagainya. “Ini adalah hal baru, yang kita sebut sebagai penodaan agama,” katanya. (Machfudh)

Tidak ada komentar: