Sabtu, 01 November 2014

Belajar Harmoni Internal Umat Beragama dari Tandes

Sejak lama Indonesia dikenal kearifan lokalnya, keramahtamahan masyarakat, juga persaudaraan yang menjadi ciri utama negeri mayoritas berpenduduk Muslim ini. Namun, beberapa konflik sporadis yang terjadi di berbagai tempat mengundang keprihatinan banyak pihak, tak terkecuali umat Islam.

Konflik yang sebetulnya bermula dari masalah beda paham dan berdasar kesalahpahaman itu tak jarang melibatkan internal umat beragama, sehingga perlu teladan yang dapat mengembalikan ciri utama umat Islam Indoneia, yaitu kerukunan.

Mengunjungi daerah Jawa bagian timur, tepatnya di Kecamatan Tandes, daerah yang memiliki jumlah penduduk 92.935 jiwa dengan kondisi sosio ekonomi dan kultural masyarakatnya terbagi dalam beberapa kelompok.

Seperti pada umumnya masyarakat di Kota Surabaya, penduduk di wilayah Kecamatan Tandes juga sangat majemuk, baik dari segi agama, sosio kultural, etnis maupun pekerjaan, sehingga terjadi akulturasi budaya antara penduduk asli dan penduduk pendatang. Hal tersebut dikarenakan beberapa sebab, salah satunya, Tandes merupakan daerah Industri, di mana hampir separuh penduduknya adalah pendatang.

Sebagian besar penduduk Kecamatan Tandes adalah santri, meski demikian dalam praktek keagamaan masyarakatnya terbagi menjadi beberapa kelompok, terbukti dengan berdirinya tiga bangunan Masjid yang jaraknya sangat berdekatan satu sama lain. Meski demikian, baik pengurus masjid maupun masyarakat sekitar tetap hidup rukun.

Tepatnya, di Jalan Raya Manukan, ada tiga masjid besar yang jarak antara satu dengan yang lainnya teramat dekat, ternyata memang diketahui ketiga masjid tersebut mempunyai jamaah yang sama-sama besar.

Akan tetapi, jamaahnya berbeda pandangan dalam memahami pesan agama (Islam), yaitu Masjid Nasuha berkultur NU, Masjid Sirotol Mustaqim yang berafiliasi ke Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan Masjid At Taqwa milik warga Muhammadiyah.

Ditemui diruang kerjanya, di Kantor Urusan Agama (KUA), Kec. Tandes, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Moesleh Saridjan mengungkapkan, kabar keharmonisan yang sudah tersebar luas tersebut memang benar adanya.

“Ya meski mereka beda soal memahami ajaran agama, mereka selalu harmonis, rukun dan Alhamdulillah, sampai hari ini, belum ada hal-hal yang negatif, ungkapnya. Dalam kegiatan keseharian, lanjutnya, masjid-masjid tersebut membagi waktu kapan suara sound sistem harus keluar dan tidak, sehingga satu sama lain tidak saling terganggu.

Hal ini mengingatkan program-progam yang galakkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI), di mana penataan akustik masjid dan pelatihan manajemen masjid memang sangat diperlukan, agar masjid semakin memberi manfaat kepada masyarakat, terutama masyarakat yang rumahnya berada di dekat Masjid. (Machfudh)

Tidak ada komentar: