Rabu, 12 November 2014

Siapa, Manusia yang Disebut Kafir?

Manusia, sadar atau tanpa sadar sering mengaku dirinya lebih beriman dan lebih taat dalam melaksanakan ajaran agama. Namun sesungguhnya tingkah laku dan perbuatan yang dilakukannya, belum mencerminkan seperti apa yang diucapakannya.

Ironisnya, tak jarang pula manusia secara terang-terangan menyebut manusia lain sebagai sosok manusia kafir, sedangkan dalam Al Qur’an telah ditegaskan bahwa Allah SWT menyebut hamba-Nya kafir pada hal-hal tertentu.

Terlebih lagi, apabila antara manusia satu dengan manusia lain berbeda agama, maka mereka akan saling menyebut kafir terhadap manusia yang berbeda agama dengannya. Allah SWT berfirman dalam Surah (02) Al Baqarah Ayat 62;
 
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. 2 : 62)

Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa. Dan, ada yang mengatakan bahwa mereka adalah orang masih tetap di atas fitrahnya, wallahu a'lam. Orang-orang mukmin, begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah, termasuk iman kepada Muhammad SAW.

Kemudian, percaya kepada hari akhirat, dan mengerjakan amalan yang saleh, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah. Amal saleh disini, ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama tauhid (agama Allah), baik yang berhubungan dengan agama ataupun tidak.

Disebutkannya ayat ini, setelah sebelumnya menerangkan tindakan Bani Israil, dan akhlak mereka yang buruk, serta celaan kepada mereka di antara faedahnya, adalah agar mereka (Bani Israil) tidak berputus asa untuk bertobat, dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari ‘Ubaidah bin Ash Shamit RA, berkara: Rasulullah SAW, bersabda; “Barangsiapa percaya bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah dan utusannya, dan kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam dan ruh daripada-Nya, dan bahwa surga itu benar adanya (haq), maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dengan amal perbuatannya (yang baik) seberapa pun adanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Yaitu apabila jika mereka mau merubah sikap dengan imannya dan beramal shalih, maka mereka akan memperoleh kemuliaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah (05) Al Maa’idah Ayat 65;


Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. 5 : 65)

Selain itu, makna tersirat dari ayat pada Surah Al Baqarh di atas, menunjukkan kepemurahan Allah. Setelah membalas celaan dan lecehan mereka terhadap agama-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang mukmin dengan menyebutkan aib mereka, dan perkataan mereka yang batil.

Allah mengajak mereka untuk bertobat. Jika mereka beriman kepada Nabi Muhammad SAW, adalah terakhir yang diutus Allah SWT, niscaya Allah akan menghapuskan kesalahan mereka, dan akan memasukkan mereka ke dalam surga.

Dalam ayat tersebut, Allah juga ingin menerangkan bahwa celaan itu hanyalah bagi mereka yang mengikuti jejak nenek moyang mereka yang salah. Dan, agar tidak ada kesan bahwa hal ini khusus mereka, maka Allah menyebutkan juga bahwa tidak hanya mereka, bahkan umat yang lain; baik Yahudi, Nasrani, Shabiin dan umat lainnya.

Jika mereka sama mau beriman dan mau beramal shalih, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah, mereka tidak perlu takut dengan apa yang akan mereka hadapi berupa perkara akhirat, dan tidak perlu bersedih hati terhadap apa saja yang telah berlalu.

Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud dengan manusia kafir disini, adalah mereka (manusia) yang tidak mau beriman kepada Allah, tidak beriman (tidak mempercayai) bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah SWT.

Serta tidak mempercayai adanya hari kiamat dan pembalasan bagi orang yang tidak beramal saleh, sehingga mereka larut dengan kebathilannya. Semoga kita tidak termasuk kedalam golongan mereka, melainkan tergolong orang yang mendapat hidayah-Nya. Aammiinn. (Machfudh)

Tidak ada komentar: