Rabu, 12 November 2014

Sunnatullah (Sunnah Allah)




Apa yang disebut oleh filsafat dengan ‘hukum alam’ dan ‘hukum sebab-akibat’, oleh agama (Islam) disebut dengan ‘sunnatullah’ (Sunnah Allah). Ini berarti, bahwa Allah dalam perbuatannya memiliki cara khusus dan tetap yang tidak dapat diubah.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah (33) Al Ahzab Ayat 62;
 
Sebagai sunnah Allah yang Berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.” (Q.S. 33 : 62)

Pengertian tersebut ditegaskan kembali oleh Allah SWT dalam Surah (35) Faathir Ayat 43, Dia berfirman;
 
Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (Q.S. 35 : 43)

Yang dimaksud dengan sunnah orang-orang yang terdahulu, ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul. Jelaslah bahwa sunnatullah adalah ketentuan atau ketetapan Allah yang bersifat tetap dan konsisten, atau tidak pernah mengalami perubahan.

Maksudnya adalah, bahwa sunnatullah tidak akan berubah menjadi sunnah yang lain, sebagaimana dihapusnya suatu hukum positif dengan hukum positif yang lain.

Sunnatullah tidak akan berubah, sebagaimana berubahnya hukum-hukum yang relatif, yang kepadanya dapat ditambahkan atau dikurangi sesuatu, kemudian bagian tersebut direvisi tanpa harus menghapuskan prinsip hukum tersebut.

Sungguh kalimat seperti itu, merupakan kalimat-kalimat yang membingungkan dari sebuah buku undang-undang yang membingungkan pula.

Adapun Al Qur’an, pada dasarnya adalah pembimbing ilmu pengetahuan dan sahabat orang-orang yang bertaqwa. Akal raksasa para filosof telah diperas bertahun-tahun lamanya, untuk sampai pada kesimpulan hukum sebab-akibat umum yang mengatur alam.

Kemudian mereka tertipu, menepuk dada dan sombong, karena telah menemukan rahasia alam, dan mampu menyingkap hukum yang penting.

Mereka tidak tahu, bahwa Al Qur’an telah mendahuluinya dengan ungkapan yang dalam dan tegas; “Sungguh kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” Siapa yang dapat memberikan ungkapan yang lebih tegas dari ungkapan Al Qur’an ini?

Al Qur’an tidak saja menyebutkan, bahwa di alam ini terdapat hukum-hukum dan sunnah-sunnah yang bersifat universal, melainkan pada kesempatan yang lain juga, menetapkan sebagian sunnah-sunnah tersebut terhadap manusia.

Allah SWT berfirman dalam Surah (13) Ar Ra’d Ayat 11;
 
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. 13 : 11)

Ayat ini menjelaskan, bahwa Tuhan tidak akan merubah keadaan suatu bangsa, selama mereka tidak merubah keadaan mereka, baik terkait keadaan yang menyebabkan kemajuan maupun kemundurannya.

Suatu kaum yang sedang berada pada kondisi kemunduran, mustahil akan mengalami kemajuan, apabila mereka tidak menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran diri mereka sendiri.

Begitu juga kaum yang sudah maju, mustahil mereka akan kembali menjadi terbelakang, apabila tidak mengerjakan faktor-faktor yang menyebabkan keterbelakangan mereka.

Allah tidak akan mengubah hukum-hukum-Nya, tetapi manusialah yang harus mengubah diri mereka sendiri, contoh sebagian bangsa kita sudah sekian lama tenggelam dalam kejahilan, terperosok ke dalam dekadensi moral, tidak pernah berupaya menjalin kesatuan dan persatuan, lalu dengan kenyataan seperti itu, memohon kepada Allah, agar Dia menolong dan membela mereka.

Dengan usaha kecil, manusia menuntut imbalan besar dan terkadang telah menjadikan kedustaan dan penyelewengan sebagai cara hidupnya, dan berkhayal sebagai orang yang memiliki nilai-nilai utama, lalu dalam keadaan seperti itu pula, ingin menjadi pemimpin dunia, ini adalah suatu hal yang mustahil.
(Machfudh)

Tidak ada komentar: