Minggu, 21 September 2014

Inti Ajaran Pokok dalam Syariat Islam

Apabila kita membuka dan mempelajari Al Qur’an, maka kita akan mendapatkan apa yang menjadi ajaran pokok dalam syariat Islam, yaitu 10 pokok perintah Allah SWT. Pada artikel kali ini, penulis ingin berbagi informasi dan sedikit pengetahuan, namun ini bukan berarti penulis jauh lebih baik dari pembaca, mungkin sebaliknya.

Mudah-mudahan sedikit pengetahuan ini bisa bermanfaat dan menjadi bahan renungan bagi kita semua. Inti ajaran pokok dalam syariat Islam itu terdapat dalam surah Al An’am ayat 151, ayat 152 dan ayat 153. Dimana Allah SWT dengan tegas menyampaikan 10 perintah-Nya yang wajib dipatuhi oleh semua hamba-Nya tanpa terkecuali.

Sehingga apabila kita semua melakukannya sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT, Insya Allah, kita akan menjadi manusia yang bertaqwa kepada-Nya. Dibawah ini, penulis mencoba memaparkannya ayat demi ayat.

Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 151;
 
“Katakanlah; ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu; janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (Q.S. 6 : 151)

Allah SWT melarang kita untuk berbuat syirik, yaitu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Syirik itu sama juga melakukan tandingan bagi Allah, dimana seseorang beribadah dan mengangungkan selain Allah.

Hal itu dilarang karena kita diperintahkan untuk beribadah dan tunduk kepada-Nya, hanya Dia-lah yang wajib disembah, tiada yang lain selain Allah SWT yang berhak untuk disembah. Yaitu dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya.

Kemudian, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap kedua orang tua, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Oleh karena itu, setiap perkataan atau perbuatan yang memberi manfaat bagi orang tua atau menyenangkan keduanya, maka yang demikian termasuk berbuat baik.

Setiap manusia yang lahir di muka bumi ini telah Allah janjikan rezekinya masing-masing, sehingga kita tidak perlu takut akan kelaparan (hidup miskin) dalam menjalani kehidupan di dunia. Selain itu, Allah melarang kita melakukan perbuatan-perbuatan yang keji, yaitu dosa-dosa besar yang dianggap keji, seperti zina, liwath (homoseks), dsb.

Ada pula yang mengartikan, baik yang terkait dengan zhahir (nampak di luar) maupun yang terkait dengan hati dan batin. Larangan mendekati perbuatan keji lebih dalam daripada larangan melakukan perbuatan itu sendiri, karena larangan mendekati, berarti larangan mengerjakan pengantarnya dan wasilah (sarana) yang mengarah ke sana.

Kita juga dilarang untuk membunuh manusia, walaupun berbeda agama dan keyakinan sekalipun. Kecuali yang dibenarkan, yaitu dibenarkan oleh syara' seperti qishash, membunuh orang murtad, dan rajam kepada pezina yang sudah menikah.

Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 152;
 
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu Berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah, yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (Q.S. 6 : 152)

Dalam ayat ini, Allah SWT melarang kita untuk mendekati harta anak yatim, apalagi mengambil dan memakannya (yang bukan hak kita). Yaitu memakan atau menukarnya dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi atau mengambil tanpa sebab, kecuali untuk memberikan kemaslahatan bagi anak yatim yang bersangkutan.

Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh mengolah harta anak yatim dengan pengolahan yang merugikan anak yatim. Memang dimaktubkan dalam ayat ini, bahwa anak yatim sebelum dewasa dicegah melakukan tindakan terhadap hartanya, dan walinyalah yang mengelola hartanya dengan pengelolaan yang menguntungkan sampai anak yatim itu beranjak dewasa.

Allah SWT melarang kita berlaku curang terhadap hal apa pun, mencari keuntungan pribadi dari setiap tindakan yang merugikan orang lain. Oleh karena itu, jika seseorang berusaha memenuhi takaran dan timbangan, namun terjadi kekurangan tanpa ada sikap remeh darinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Berkatalah dengan sejujur-jujurnya, jangan ditutupi, walaupun apa yang dikatakan itu sebenarnya merugikan kerabat sendiri. Serta memenuhi setiap janji kita kepada-Nya, maksudnya penuhilah segala janji yang diadakan antara kamu dengan-Nya, berupa mengerjakan hak-hak-Nya dan memenuhinya, demikian juga perjanjian yang diadakan antara kamu dengan orang lain. Semua perjanjian wajib dipenuhi dan haram dibatalkan atau diremehkan.

Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 153;
 
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (Q.S. 6 : 153)

Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Yakni perintah yang disebutkan dalam ayat 151-152 dan yang semisalnya. Jalan yang menghubungkan kepada Allah dan kepada surga-Nya, jalan yang lurus, mudah dan ringan. Agar kamu memperoleh keberuntungan dan memperoleh apa yang kamu harapkan.

Yakni jalan-jalan yang menyelisihinya. Menyimpangkan kamu dari jalan-Nya yang lurus. Jika kamu sudah keluar dari jalan yang lurus, maka di sana tidak ada lagi jalan selain jalan yang mengarah kepada neraka. Kita meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita menempuh jalan yang lurus. (Machfudh)

Tidak ada komentar: