Jumat, 12 September 2014

Mengenal dan Belajar dari Perbedaan

Allah SWT menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku bangsa yang berbeda-beda untuk tujuan tertentu, yakni agar saling berkenalan, saling belajar, dan tolong-menolong dalam arti yang seluas-luasnya. Bangsa Indonesia terdiri dari 500 etnis, dengan berbagai kultur.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah (49) Al Hujuraat Ayat 13;
 
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. 49 : 13)

Ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tidak hanya kepada kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu.

Dihadapan Allah SWT, mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertaqwa.(1)

Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda suku, ras dan bangsanya, supaya saling mengenal. Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti, dan saling memperoleh manfaat, baik moril maupun materiil.

Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain, dan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Nabi Muhammad SAW telah berhasil menghimpun dan mempersatukan bangsa Arab pada umumnya dan masyarakat. Madinah pada khususnya dengan Piagam Madinah. Kebinekaan etnisitas tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berlaku sopan dan satun kepada sesama, serta menjaga tatakrama.

Nabi Muhammad SAW bersabda; “Janganlah kamu menganggap remeh sedikitpun terhadap kebaikan, walaupun hanya bermanis muka kepada saudaramu ketika bertemu.” (H.R. Muslim dari Abu Zarr).(2)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersanda; “Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.” (H.R. At Tirmizi dari Abu Ad Darda).(3)

Mukmin niscaya senantiasa menjaga akhlak mulia dalam pergaulan dan menjauhi kelakuan yang keji, prasangka dan caci maki. Sebagimana Nabi Muhammad SAW bersabda; “Hindarilah buruk sangka, karena buruk sangka itu sedusta-dustanya berita.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Rasulullah SAW menyatakan dengan tegas pada hadits lain, sabdanya; “Mencaci maki seorang muslim berarti fasik, dan memerangi orang muslim berarti kufur.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud)

Sesama mukmin, niscaya saling mencintai dan menjaga budi pekerti yang baik. Rasulullah SAW bersabda; “Tidak sempurna iman seseorang, hingga ia menyayangi saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri.” (H. R. Al Bukhari dan Muslim dari Anas)

Dalam hadits lain dijelaskan, bahwa; “Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang  paling sering memasukkan orang ke dalam surga? Jawabnya; Taqwa kepada Allah dan baik budi. Dan ketika ditanya; Apakah yang sering memasukkan orang ke dalam neraka? Jawabnya; Mulut dan kemaluan.” (H.R. At Tirmizi dari Abu Hurairah).

(Machfudh)

Sumber : Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI.
(1)      Abdullah Yusuf Ali, Qur’an Terjemahan dan Tafsirnya, 1332, footnote 4933.
(2)      Riwayat Muslim dalam Sahih-nya, Kitab Al Birr Was Silati Wal Adabi, Bab Istihbab Talaqat Al Wajh ‘Indal Liqa’, no. 6857.
(3)   Sahih, Riwayat At Tirmizi dalam Sunan-nya, Kitab Al Birr Was Silah, Bab Husnul Khuluq, no. 2002. Hadits ini Shahih, semua perawinya siqah. Berkata Abu ‘Isa, “Hadits ini Hasan Shahih, Al Albani pun menshahihkannya dalam Shahih Al Adab Al Mufrad, no. 361.”

Tidak ada komentar: