Selasa, 07 Oktober 2014

Hubungan Agama-Negara, Indonesia Paling Dewasa

Rais Syuriah, Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Masdar Farid Mas’udi mengatakan, Indonesia merupakan contoh negara terbaik, dari format hubungan agama dan negara, dan dalam beberapa hal disusul oleh Turki.

Hal tersebut, disampaikan Masdar, dalam ceramahnya di depan perwakilan pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Islam, di Jakarta, bulan Agustus yang lalu. Penulis buku, Syarah UUD 1945, Perspektif Islamini mengatakan, dalam sejarah peradaban Islam, perbincangan mengenai hubungan Islam dan kekuasaan sebetulnya relatif tabu.

Bahkan, cenderung selalu dibuat hitam putih, itu sebabnya, ketika bicara Islam dan kekuasaan, selalu ditanggapi oleh masyarakat Muslim secara emosional, baik emosional menerima maupaun emosional menolak.

Hal tersebut, terus terjadi sampai di era modern, seperti yang berlangsung di Timur Tengah saat ini.Indonesia, pada beberapa hal diikuti oleh Turki, adalah contoh dari negara yang paling dewasa dan rasional, dalam mengakomodasi hubungan keduanya,” ujar ulama yang menjabat sebagai Anggota Komisi Fatwa, Majelis Ulama Indonesia (MUI), periode 1996 - 2001 itu.

Wakil Ketua, Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI, tahun 2001 - 2004 itu melanjutkan, konstitusi Indonesia yang berlandaskan kepada Pancasila, adalah hal yang sudah final. Kelima sila dalam Pancasila itu, seluruhnya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

“Ketuhanan Yang Maha Esa itu, konsep Tauhid (keesaan Tuhan). Kemanusiaan yang Adil dan Beradab itu, adalah wujud dari karamatul insan (kemuliaan manusia). Persatuan Indonesia itu, wihdatul ummah dalam ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan). Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan itu, konsep Syuuraa (musyawarah). Sedangkan Keadilan Sosial itu, prinsipal-‘adalah (Keadilan) yang dijunjung tinggi oleh Islam,paparnya.

Oleh karena itu, Pancasila adalah hal yang sudah final bagi negara Indonesia. Dan kekuasaan negara wajib berlaku adil, bagi seluruh rakyatnya tanpa membeda-bedakan suku dan agama. Jika ada yang mengatakan kekuasaan hanya untuk orang Islam saja, bisa dipastikan orang tersebut kurang membaca,” tandas pengasuh Pesantren Al Bayan, Sukabumi, Jawa Barat itu. (Machfudh)

Tidak ada komentar: