Rabu, 15 Oktober 2014

Tantangan Masa Depan Pendidikan Agama Islam

Saat ini, Negara kita sedang mengalami bonus demografi. Maksudnya, anak-anak usia sekolah (0 – 24 tahun), mencapai lebih dari 100 juta orang. Jumlah peserta didik sebesar ini, menjadi challenge terbesar bagi bangsa Indonesia untuk menyiapkan masa depannya.

Hal tersebut, diutarakan oleh Sekretaris Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, dalam membuka Bimbingan Teknis (Bimtek), Kurikulum 2013,  Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar (PAI SD), di Makassar, Senin (13/10-2014).

Bonus demografi tersebut, harus benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Jika bisa membina anak-anak usia produktif, maka Indonesia akan kuat secara SDM, dan sumber daya ekonomi pada tahun 2045.

Bayangkan, jika anak-anak SD, SMP, SMA dan SMK yang berjumlah 53 juta dididik dengan baik, maka dapat dipastikan akan diperoleh lulusan yang baik pula. “Di sinilah signifikansi dari Pendidikan Agama Islam (PAI), turut serta mendorong peserta didik memiliki pengetahuan, karakter dan perilaku / sikap yang memadai,” tegasnya.

Menurut Guru Besar UIN Alauddin, Makassar ini, PAI memiliki dua tujuan utama. Pertama, PAI sebagai instrumen yang menjadikan peserta didik taat dan sholeh, menjalankan agama Islam. Kedua, PAI sebagai instrumen yang menyiapkan peserta didik, menjadi toleran dan menghargai dan menghormati keragaman dengan orang lain.

Dalam penilaian Doktor Lulusan Jerman ini, tujuan inilah yang membedakan pendidikan agama di Indonesia dengan negara-negara lain, khususnya di Barat. Di Barat, pendidikan agama hanya memenuhi tujuan kedua, atau sebagai instrumen kohesif yang dapat merekatkan warga negara.

Sisi positifnya, di sana hampir tidak pernah ditemukan kekerasan atas nama agama, dan intoleransi antar umat beragama.

Kamaruddin Amin menambahkan, signifikansi dan tujuan PAI seperti di atas, erat kaitannya dengan implementasi kurikulum 2013 PAI dan Budi Pekerti. Kurikulum 2013, mendorong peserta didik memiliki pemahaman dan pengetahuan memadai, karakter kuat, perilaku dan sikap terpuji.

Pada kesempatan yang sama, Plh. Kanwil Kemenag RI, Provinsi Sulawesi Selatan, Yuspiani, melaporkan implementasi Kurikulum 2013 PAI di Sulsel, perlu ditingkatkan capaiannya. Bagi Ibu yang juga Kabid PAI ini, “Hingga tahun 2014 ini, masih 40% GPAI yang perlu ditingkatkan kompetensinya, di bidang kurikulum 2013 PAI, ungkapnya.

Hal senada disampaikan juga oleh Koordinator Implementasi Kurikulum 2013 PAI, Syafrizal, bahwa Bimtek merupakan perluasan cakupan kegiatan yang diselenggarakan oleh Kemenag Provinsi / Kabupaten / Kota, di Provinsi Sulsel. (Machfudh)

Tidak ada komentar: