Selasa, 01 Juli 2014

Mengenal Islam

Apabila mengaku beragama Islam, apakah cukup tercatat di kartu tanda penduduk saja? Tentu tidak, kalau sudah berani menyatakan diri memeluk agama Islam, maka alangkah baiknya jika mengenal dengan baik agama Islam itu sendiri.

Banyak orang yang mengaku beragama Islam, namun sayangnya tidak memahami agamanya. Ironisnya, sebagian mereka hanya pasrah dengan keislamannya, tidak berusaha untuk mencaritahu, apalagi mempelajarinya.

Dengan kefakiran dan keterbatasan ilmu yang dimiliki, sedikit ingin berbagi dan mudah-mudahan menjadi manfaat.

Apa itu Islam? Islam ialah berserah diri kepada Allah SWT dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya, dan menyelamatkan diri dari perbuatan syirik, serta menjauhi diri dari orang-orang yang berbuat syirik.

Dalam agama Islam dalam pengertian diatas, mempunyai tiga tingkatan. Yaitu; Islam, Iman dan Ihsan. Dimana ketiga tingkatan tersebut mempunyai rukun-rukunnya. Adapun rukun-rukun tersebut, sebagai berikut;

I.          Tingkat Islam
Tingkatan Islam ini dapat dilihat dari rukunnya, ada lima rukun. Yaitu syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, shiyam di Bulan Ramadhan dan Haji. Berikut sedikit penjelasannya;

1.       Syahadat
Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan), bahwa “Laa Ilaaha Ilallaah” (Tiada sesembahan yang haq selain Allah SWT) dan Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Imraan Ayat 18;

Artiinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Laa Ilaaha Ilallaah” artinya : Tiada sesembahan yang haq selain Allah SWT. Syahadat ini mengandung unsur menolak dan menetapkan. “Laa Ilaaha”, adalah menolak segala sembahan selain Allah.

Sedangkan “Illallaah” adalah menetapkan bahwa penyembahannya itu hanya untuk Allah semata. Tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam kekuasaan-Nya.

Tafsiran syahadat tersebut, Allah SWT memperjelas di dalam Surah Az Zukhruf Ayat 26 – 28;

Artinya : “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’. Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.”

Dalam Surah Ali Imran Ayat 64, Allah SWT berfirman;

Artinya : “Katakanlah: ‘Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.”

Adapun dalil mengenai syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman dalam Surah At Taubah Ayat 128;

Artinya : “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Mengucapkan syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti menataati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnhya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.

2.       Mendirikan Shalat dan Mengeluarkan Zakat, serta tafsiran Tauhid
Dalilnya terdapat di dalam Surah Al Bayyinah Ayat 5, Allah SWT berfirman;

Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

3.       Shiyam pada Bulan Ramadhan,
Dalil mengenai perintah shiyam pada Bulan Ramadhan, Allah SWT berfirman dalam Surah Al Baqarah Ayat 183;

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

4.       Dan, Haji ke Baitullah jika mampu.
Perintah untuk menunaikan ibadah Haji ke Baitullah, dalilnya terdapat dalam Surah Ali Imron Ayat 97, Allah SWT berfirman;

Artinya : “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

II.        Tingkat Iman
Tingkat kedua, yaitu Iman. Hal ini lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah syahadat, “Laa Ilaaha Ilallaah”, sedangkan cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu merupakan salah satu dari cabang Iman.

Dalam tingkat Iman, terdapat 6 rukun, yaitu sebagai berikut; Iman kepada Allah SWT, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Para Rasul-Nya, Hari Akhirat dan Qadar. (Qadar adalah takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu : Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala).

Dalil mengenai rukun ini, Allah SWT berfirman dalam Surah Al Baqarah Ayat 177;

Artinya : “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”

Dalam Surat Al Qomar Ayat 49, Allah SWT berfirman;

Artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar.”

III.      Tingkat Ihsan
Tingkat ketiga adalah Ihsan, menurut rukunnya hanya ada satu rukun, yaitu
Artinya : “Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungghnya Dia melihatmu.”

Pengetian Ihsan tersebut merupakan penggalan dari hadits Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu. (Hadits ini akan disebutkan diakhir)

Dalil mengenai Ihsan terdapat dalam Surah An Nahl Ayat 128, Allah SWT berfirman;

Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

 Terdapat pula dalam Surah Asy Syu’araa Ayat 217 – 220, Allah SWT berfirman;

Artinya : “Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Dalil lainnya, Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus Ayat 61;

Artinya : “Kamu tidak berada dalam suatu Keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Sedangkan dalam Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al Iman, Bab 1, Hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz, seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al Iman, Bab 37, Hadits ke 1.

Artinya : “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya.

Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam?’

Maka beliau menjawab : ‘Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke san’. Lelaki itu pun berkata : ‘Benarlah engkau’.

Kata Umar : ’Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau’. Lalu ia berkata : ‘Beritahulah aku tenatng Iman?’. Beliau menjawab : ‘Yaitu, beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk’.

Ia pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kemudian ia berkata : ‘Beritahullah aku tentang Ihsan?’. Beliau menjawab : ‘Yaitu, beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’.

Ia berkata lagi. ‘Beritahulah aku tentang hari Kiamat?’. Beliau menjawab : ‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya’. Akhirnya ia berkata : ‘Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu?’.

Beliau menjawab : ‘Yaitu, apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi’.

Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : ‘Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian’.”

Jadi, sebagai umat Islam sudah semestinya mengenal dan memahami agama yang dianutnya, sehingga tidak mengalami kesesatan dan menjalani keyakinan tersebut. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Aammiinn. (Machfudh)

Tidak ada komentar: