Minggu, 13 Juli 2014

Hidup Berdampingan dengan Pengikut Agama Lain Bagian VI

Pandangan Al Qur’an mengenai hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk agama, merupakan pemikiran orisinil Islam. Banyak ayat Al Qur’an, dalam ragam bentuk dengan lugas menganjurkan kepada umat Islam memperhatikan masalah penting ini.

Pada bagian lima, telah diterangkan mengenai seluruh kitab samawi senada dalam masalah-masalah prinsip (ushul) antara satu dengan yang lainnya, serta menuju pada tujuan yang satu (menggembleng dan menyempurnakan manusia).

Pada bagian enam, merupakan kelanjutannya yaitu sebagai berikut;

8.       Mendorong perdamaian internasional

Islam semenjak permulaan telah mencanangkan prinsip-prinsip perdamaian. Melalui jalan tersebut, Islam telah memuluskan perdamaian internasional dan koeksistensi secara damai di antara pemeluk agama-agama dunia.

Dalam masalah ini cukup bagi kita mengetahui bahwa perdamaian (shulh) adalah ruh agama Islam. Sebagaimana yang telah disebutkan redaksi Islam derivasinya dari kata sa-la-m. Atas dasar itu, mengandung makna keselamatan dan ketenangan, karena itu Al Qur’an memerintahkan seluruh umat manusia untuk memasuki wilayah salam dan perdamaian’.

Dalam surah Al Baqarah ayat 208, Allah SWT berfirman;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. 2 : 208)

Sa-la-m lebih tinggi kedudukannya dan lebih lestari ketimbang perdamaian (shu-lh). Karena sa-la-m bermakna keselamatan dan keamanan, serta tidak memiliki satu bentuk perdamaian yang bersifat temporal secara lahir.

Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW, bahwa apabila para musuhmu memasuki wilayah perdamaian dan condong kepadanya, maka engkau juga (Muhammad) memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, dan bersepakatlah dengan mereka.

Dalam surah Al Anfal ayat 61, Allah SWT berfirman;
 
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S. 8 : 61)

Kecintaan Islam terhadap perdamaian yang terjalin di antara manusia, demikian mendalam. Sehingga memberikan berita gembira kepada orang-orang beriman, bahwa boleh jadi berdasarkan perilaku damai kaum Muslimin, antara mereka dan para musuh akan menjalin hubungan persahabatan.

Dalam surah Al Mumtahanah ayat 7, Allah SWT berfirman;

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka (musyrikin-melalui jalan Islam). dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 60 : 7)

Kelompok non-Muslim terbagi menjadi dua; kelompok yang berdiri berhadap-hadapan dengan kaum Muslimin, mereka menghunuskan pedang dihadapan kaum Muslimin, serta mengeluarkan kamu Muslimin dari rumah dan tempat kelahiran mereka secara paksa.

Singkatnya, permusuhan dan kebencian mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin dinampakkan secara terang-terangan dalam ucapan dan perbuatan.

Taklif dan tugas kaum Muslimin dalam menghadapi kelompok tersebut, yaitu dengan cara menghindar dalam rangka menjalin apa pun bentuk hubungan. Contoh nyata, kaum Musyrikin Makkah, utamanya para pemimpin Quraisy, kelompok yang secara resmi menampakkan kebencian dan permusuhan dengan Islam dan kaum Muslimin.

Sedangkan kelompok kedua, meski mereka kafir dan musyrik, namun mereka tidak ada urusannya dengan kaum Muslimin. Kelompok ini tidak menampakkan kebencian, dan juga tidak memerangi kaum Muslimin.

Bahkan mereka tidak juga melakukan tindakan pengusiran kaum Muslimin dari rumah dan kampung halaman mereka. Selain itu, sekelompok dari mereka mengikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin.

Oleh karena itu, kaum Muslimin harus bersikap loyal dengan mereka dan berusaha berlaku adil terhadap mereka. Contoh nyatanya, kaum Khuzai yang menanda-tangani perjanjian damai dengan kaum Muslimin. (Tafsir Nemune, jil. 22, hal. 31-32)

Singkatnya, sokongan terhadap perdamaian dan koeksistensi damai dalam politik luar negeri, merupakan program yang paling rasional dan paling dinamis. Islam juga telah mencanangkan program seperti ini, dan tetap mempersiapkan kekuatan dalam melakukan tindakan pembelaan (defence) pada kondisi-kondisi darurat.

Demikian pentingnya perdamaian dan koeksistensi secara damai dalam Islam, sehingga pada perhimpunan-perhimpunan kecil, dalam mengatasi perbedaan-perbedaan keluarga juga Al Qur’an memerintahkan dengan cara berdamai dan bertoleran. ‘wa al-shulh khair’.

9.       Memerangi segala ilusi superior atas agama lain

Sebagian ayat dalam Al Qur’an, bercerita tentang peperangan terhadap…. (Bersambung)(Machfudh/quran.al-shia.org dan berbagai sumber)


Tidak ada komentar: