Rabu, 09 Juli 2014

Hidup Berdampingan dengan Pengikut Agama Lain Bagian II

Pandangan Al Qur’an mengenai hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk agama, merupakan pemikiran orisinil Islam. Banyak ayat Al Qur’an, dalam ragam bentuk dengan lugas menganjurkan kepada umat Islam memperhatikan masalah penting ini.

Pada pertama telah sedikit diuraikan mengenai memberikan ruang kebebasan untuk berkeyakinan dan berpikir berdasarkan pandangan Al Qur’an,  dimana sebahagian ayatnya menjelaskan prinsip kebebasan beraqidah. Berikut ini merupakan lanjutannya, yaitu;

2.       Memberikan perhatian terhadap prinsip-prinsip bersama

Islam adalah sebuah ajaran yang semenjak kemunculannnya telah mempresentasikan slogan koeksistensi kepada seluruh penduduk dunia. Ajaran ini menyeru kepada Ahlulkitab, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 64;




Katakanlah: ‘Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (Q.S. 3 : 64)

Ayat ini merupakan salah satu ayat penting yang menyeru Ahlulkitab kepada persatuan. Argumentasi ayat mulia ini, berbeda dengan model argumentasi ayat-ayat sebelumnya. Ayat-ayat sebelumnya, secara langsung menyeru kepada Islam, akan tetapi ayat ini menaruh perhatian pada poin-poin yang umum antara Islam dan Ahlul kitab.

Al-Qur’an mengajarkan kepada umat Islam (kaum muslimin), bahwa apabila orang-orang tidak bersedia untuk bekerja sama denganmu untuk mencapai tujuan-tujuan sucimu, janganlah berlipat tangan. Dan, berusahalah minimal pada tujuan-tujuan umum, kalian dapat bekerja sama dengan mereka dan menjadikannya sebagai asas untuk merealisasikan tujuan-tujuan mulia kalian. (Tafsir Nemune, Nashir Makarim Syirazi, et al, Jilid 2, hal. 450).

3.       Menafikan rasialisme

Al-Qur’an, mencela segala jenis pemikiran rasialisme dan memandang bahwa seluruh manusia adalah anak dari satu ibu dan ayah dan tentu saja hampa keunggulan ras, kaum dan agama. Al-Qur’an dalam pesan universalnya menolak rasialisme.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 13;


Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. 49 : 13)

Prinsip penting koeksistensi secara damai, salah satunya adalah persamaan dan kesetaraan umat manusia. Sebab, rasialisme merupakan ajaran yang memandang dirinya lebih superior dan mendorong penganutnya untuk menghina bangsa-bangsa lain.

Akibatnya, munculah berbagai macam problem dalam kehidupan umat manusia, misalnya, perang dunia pertama dan kedua, merupakan contoh nyata dari problematika tersebut.

Perbedaan warna kulit, ras, bangsa tidak akan menyebabkan keutamaan seseorang atas orang lainnya. Al Qur’an memandang, perbedaan bahasa dan warna kulit, merupakan salah satu ayat-ayat dalam tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Perbedaan ini, merupakan wadah atau sebagai media untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya. Apabila seluruh manusia satu bentuk, satu warna dan memiliki satu corak, tinggi dan berat yang sama, maka kehidupan manusia ini akan berujung pada chaos atau anarki.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki keutamaan dan kemuliaan atas manusia lainnya, kecuali ketaqwaan dan penghambaan kepada Allah SWT. Seluruh manusia adalah entitas yang membentuk ‘keluarga manusia’ dan ‘umat yang satu’.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 213;



Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.S. 2 : 213)

Kebanyakkan ayat-ayat Al Qur’an menyeru kepada manusia dengan seruan seluruh manusia, seperti “Ya Bani Adam” (redaksi “Ya Bani Adam”, disebutkan pada beberapa ayat Al Qur’an, surah Al A’raaf ayat 26, 27, 35 dan 171, surah Al Isra ayat 70). Atau seruannya berupa “Ya Ayyuha Al Insan” (redaksi tersebut terdapat pada ayat Al Qur’an, surah Al-Infithaar ayat 6, surah. Al-Insyiqaaq ayat 60, dan kurang lebih 60 ayat lainnya).

Seruan-seruan dan ekspresi-ekspresi ini, menadaskan bahwa kemanusiaan merupakan satu makna umum di antara para penghuni jagad raya. Orang-orang dari berbagai daerah tidak memiliki perbedaan dengan yang lainnya dari sisi kemanusiaan.

Manusia sepanjang perjalanan sejarah dari sisi bahasa, warna kulit, ras, bangsa dan sebagainya, itu adalah berbeda satu dengan yang lainnya. Namun dalam perspektif Islam, seluruh umat manusia merupakan putra-putri satu ayah dan ibu (Adam dan Hawa), dan segala perbedaan yang ada tidak akan menciderai kemanusiaan manusia ini. (Al Nizham Al Dauli Al Jadid baina Al Waqi’ Al Hali wa Al Tashawwur Al Islami, Yasir Abu Syabana,  hal. 542-543)

4.       Dialog secara damai

Al Qur’an memerintahkan kepada umat Islam (muslimin) untuk mengedepankan ‘Jidal Ahsan’ dan ‘Berdialog secara damai’ dengan…. (Bersambung)

(Machfudh/quran.al-shia dan berbagai sumber)

Tidak ada komentar: