Rabu, 09 Juli 2014

Hidup Berdampingan dengan Pengikut Agama Lain Bagian I

Umat Islam di Indonesia jumlahnya mayoritas, meskipun demikian, Indonesia bukanlah sebuah negara yang berlandaskan agama, melainkan Pancasila. Sehingga mau tidak mau dalam kehidupan sehari-hari akan berdampingan dengan para pengikut agama lain.

Sayangnya, keegoisan yang merasuki manusia, terkadang mengalahkan segalanya. Akibatnya merasa paling benar dan berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan manusia lain, bahwa apa yang dikatakanya adalah benar.

Padahal, sebagai umat Islam ketika menghadapi pelbagai hal dalam kehidupan, hanya ada satu kata, kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Insya Allah, bila hal tersebut dipegang teguh, maka tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah-masalah di depan mata.

Termasuk juga, permasalahan hidup berdampingan dengan pengikut agama lain, dimana masalah tersebut seakan telah menjadi momok yang sangat menakutkan dan mengerikan untuk dihadapi.

Marilah kita bersama untuk merenungkan, Insya Allah, sang Fakir mengutip dari beberapa sumber mencoba untuk menguraikannya dibawah ini. Semoga bermanfaat bagi sang Fakir khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya.

Pandangan Al Qur’an mengenai hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk agama, merupakan pemikiran orisinil Islam. Banyak ayat Al Qur’an, dalam ragam bentuk dengan lugas menganjurkan kepada umat Islam memperhatikan masalah penting ini.

Sudah banyak peristiwa perang agama dan pertikaian, karena perbedaan keyakinan, seperti perang Salib kaum Kritiani. Padahal dalam pandangan Al Qur’an dan sebagian agama lain hal tersebut tidak dibenarkan.

Memendam dendam dan permusuhan kepada para pengikut agama dilarang, demikian juga menggunakan metode-metode yang menghina agama lain, tidak dibenarkan dalam Islam.

Al Qur’an menganjurkan beberapa jalan untuk menyediakan ruang hidup damai secara berdampingan dengan pemeluk agama lain, diantaranya sebagai berikut;
1.       Memberikan ruang kebebasan untuk berkeyakinan dan berpikir,
2.       Memberikan perhatian terhadap prinsip-prinsip bersama,
3.       Menafikan rasialisme,
4.       Dialog secara damai,
5.       Menyambut tawaran damai,
6.       Menerima hak-hak kaum minoritas,
7.       Menerima secara resmi perdamaian internasional,
8.       Memerangi segala ilusi superior atas agama lain,
9.       Korporasi dan kerjasama dalam masalah-masalah internasional.

Sementara pada empat belas abad sebelumnya, konsep koeksitensi (co-existence) di antara agama dan pemeluk agama, sama sekali belum dikenal oleh umat manusia.

Al-Qur’an menyebutkan sekelompok orang dari Kristen dan Yahudi yang saling mencemooh satu dengan yang lain, saling menghina, menginjak-injak hak-hak manusia, senantiasa menyulut api peperangan dan pertikaian di antara sesama mereka.
Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 113;
 
Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan’, dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,’ Padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti Ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” (Q.S. 2 : 113)

Berikut ini, Insya Allah, akan dipaparkan mengenai Al Qur’an menganjurkan beberapa jalan dalam menyediakan ruang hidup damai secara berdampingan dengan pemeluk agama lainnya. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. diantaranya sebagai berikut;

1.       Memberikan ruang kebebasan untuk berkeyakinan dan berpikir

Sebagian ayat dalam Al Qur’an, dijelaskan prinsip kebebasan beraqidah. Maksudnya secara azasi mengikuti keyakinan-keyakinan hati dan masalah-masalah nurani, hanya bermakna tatkala tidak terdapat desakan dan paksaan di dalamnya.

Dalam surah Al Baqarah ayat 256, Allah SWT berfirman;
 
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut*) dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

*) Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

Allah SWT berfirman dalam surah Yunus ayat 99;

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (Q.S. 10 : 99)

Dalam surah Al Kahfi ayat 29, Allah SWT berfirman;

 “Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S. 18 : 29)

Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 107;

 “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya). dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.” (Q.S. 6 : 107)

Merujuk pada ayat Al Qur’an tersebut diatas, maka Iman kepada Allah SWT dan prinsip-prinsip Islam tidak dapat dipaksakan. Melainkan hanya dapat dilakukan dengan logika dan penalaran. Perlu kiranya hakikat-hakikat dan perintah-perintah Allah SWT dijelaskan, sehingga manusia bisa memahami dan menerimanya dengan kehendak dan ikhtiar yang mereka miliki masing-masing.

Hal lain dari kebebasan adalah kebebasan berpikir, kebanyakkan ayat Al Qur’an menyeru kepada manusia untuk berpikir, berinteleksi dan berkontemplasi di alam semesta ini. Manusia dituntut dengan energi akalnya, untuk mengenal segala yang menguntungkan dan merugikan bagi dirinya.

Manusia diminta untuk terbebas dari segala pasungan, tawanan, kesesatan dan penyimpangan, sehingga dengan demikian manusia akan mudah melenggang melaju ke depan untuk meraup kesempurnaan.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.S. 41 : 53)

Dalam surah Adz Dzariyaat ayat 20 – 22, Allah SWT berfirman;
 
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu*) dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu*).” (Q.S. 51 : 20 – 22)

*)  Maksudnya: hujan yang dapat menyuburkan tanaman.
*)  Yang dimaksud dengan apa yang dijanjikan kepadamu ialah takdir Allah terhadap tiap-tiap manusia yang telah ditulis di Lauhul
     mahfudz.

2.       Memberikan perhatian terhadap prinsip-prinsip bersama

Semenjak kemunculan Islam, ajarannya telah mempresentasikan…. (Bersambung)

(Diadaptasi dari Indeks 1619, Site: 1671)
(Machfudh/quran.al-shia.org dan berbagai sumber)

Tidak ada komentar: