Sabtu, 05 Juli 2014

Kisah Ali bin Abi Tholib




Umat Islam banyak mengenal sahabat Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan yang lainnya. Kehidupan dari para sahabat Rasulullah tersebut, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Misalnya dari kehidupan Ali bin Abi Thalib, karena beliau mendapat tempat istimewa di sisi Rasulullah SAW.

Karena Ali bin Abi Thalib, masih memiliki keterikatan keluarga. Ali adalah anak dari paman nabi, akni Abi Thalib. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah diasuh cukup lama oleh Abi Thalib, setelah beliau ditinggalkan orang tua dan kakeknya.

Ali bin Abi Thalib yang sering disebut Ali oleh beberapa kalangan ulama, usianya terpaut sekitar 30 tahun dari usia Nabi Muhammad SAW. Jadi, saat nabi berusia 30 tahun, Ali baru dilahirkan. Karena Nabi pernah diasuh oleh ayahnya Ali, maka tidak bisa dipungkiri Ali kemudian dididik dan dibesarkan oleh Baginda Rasulullah.

Lantaran kedekatan tersebut, maka Ali sudah dapat dipastikan mendapat informasi dan ilmu setiap harinya dari Nabi SAW secara langsung. Sehingga tidak heran jika Ali menjadi seorang yang cerdas dan banyak menyampaikan hadits.

Banyak para ulama mengatakan kalau Nabi Muhammad SAW sebagai kota Ilmu (Madinatul Ilmu), maka Ali adalah pintu gerbangnya (Baabul Ilmu). Dalam perjuanga dakwah Islam, posisi Ali sangatlah luar biasa. Salah satunya adalah sikap heroik dan mengandung resiko saat berusia 23 tahun.

Ali bersedia tidur di tempat tidur Rasul, menggantikan Rasul sekaligus untuk mengelabui rencana kaum kafir Quraisy yang akan membunuh Rasul. Ali tidur di kamar Rasul, sementara Rasul pergi berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Selain itu, Ali juga dipandang sebagai seorang yang pemberani dan cakap dalam peperangan, baik perang Badar, Uhud, Khandaq, dan perang lainnya. Bahkan, sejarahwan menulis keistimewaan Ali sampai 18 item, baik dari sisi keilmuan dan kecerdasan, maupun kepeduliannya terhadap orang lain yang sedang ditimpa kesusahan.

Saking dekatnya Ali dengan Nabi Muhammad SAW, beliaupun menjadikan Ali sebagai menantunya. Ali dinikahkan dengan Siti Fatimah, salah seorang putri Nabi dari istrinya, Siti Khadijah.


Keikhlasan dan Ketulusan Seorang Ali

Sebuah kisah yang Insya Allah, bisa menjadi contoh tauladan bagi umat Islam. Yaitu mengenai ketulusan dan keikhlasan dari Ali bin Abi Thalib. Kisahnya sebagai berikut;

Suatu hari, ketika Ali bin Abi Thalib pulang ke rumah dan menemui istrinya, Siti Fatimah, seraya ia berkata; “Adakah makanan untuk hari ini?” Istrinya menjawab; “Kita tidak memiliki makanan, hanya ada uang 6 dirham untuk persediaan makan Hasan dan Husain.”

Mendengar jawaban tersebut, Ali pun menanggapi dan berkata; “Berikanlah uang itu kepada saya, biar nanti saya yang akan membelikan makanannya.”

Usai bercakap dengan istrinya dan menerima uang 6 dirham, Ali kemudian pamit keluar rumah untuk membeli makanan. Namun ketika ditengah perjalanan, Ali bertemu dengan seseorang dan menegurnya; “Wahai Ali, adakah orang yang mau meminjamkan uang kepada saya karena Allah?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Ali spontanitas menjawab; “Ada, dan akulah orangnya.” Akhirnya uang dibawa Ali untuk membelimakanan sebanyak 6 dirham itu diberikan kepada orang tersebut. Lantaran semua uangnya telah diberikan kepada orang itu, maka Ali-pun tidak jadi berbelanja dan ia kembali pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, Siti Fatimah pun bertanya kepadanya; “Wahai suamiku, manakah manakan yang engkau beli?” Dengan tenang Ali menjawab; “Aku tidak jadi membeli makanan, karena uang tersebut telah aku berikan kepada seseorang yang lebih membutuhkan.”

Mendengar jawaban suaminya itu, Fatimah tidak marah, justru dia menyambut dengan gembira dan senang. Karena telah memberikan hartanya kepada orang yang membutuhkan, walaupun harta itu sangat diperlukan untuk memenuhi kepentingan keluarganya.

Setelah bercakap-cakap dengan istrinya, Ali meminta izin istrinya untuk menemui Rasulullah. Guna ‘berkonsultasi’ dan untuk menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Maka, berangkatlah Ali menemui Rasulullah.

Saat diperjalanan, Ali bertemu seseorang yang tengah membawa seekor unta. Berkata orang itu; “Wahai Ali, hendak kemana engakau?” Ali menjawab; “Aku hendak berkunjung ke rumah Rasulullah.”

Belilah untaku, seharga 100 dirham. Karena aku tidak mempunyai uang?” tawar orang itu. Mendapat tawaran itu, Ali menjawab; “Aku tidak punya uang sama sekali.” Orang itu menawarkan kembali; “Tidak apa-apa, juallah unta ini selakunya, engkau bisa membayar belakangan setelah untanya laku.”

Ali pun menyepakati atas tawaran tersebut, kemudian dia kembali lagi pulang ke rumah, guna mengikatkan unta sebelum dirinya menemui Rasulullah. Namun, ketika dalam perjalanan pulang ke rumah. Ali bertemu dengan seseorang dan orang itu menegurnya; “Wahai Ali, mau diapakan unta itu?”

Aku mau menjualnya,” jawab Ali menanggapi teguran orang itu. Dan orang tersebut berkata lagi; “Sungguh unta yang sangat bagus. Saya berminat untuk membelinya, seharga 300 dirham.” Singkat cerita, terjadilah transaksi jual beli unta antara Ali bin Abi Thalib dengan orang tersebut, kemudian setelah menerima uang pembayaran Ali pulang ke rumah, dia membawa pulang uang 300 dirham.

Sesampainya dirumah, istrinya bertanya karena melihat wajah gembira sang suaminya. “Ada apa denganmu wahai suamiku, engkau kelihatannya sangat gembira sekali?” Ali pun menceritakan semua yang baru dialaminya, seraya menunjukkan keuntungan 200 dirham dari menjual unta.

Kemudian, uang 200 dirham dititipkan kepada istrinya, dan Ali pamit pergi untuk membayar hutang  kepada pemilik unta sebesar 100 dirham, sekaligus menemui Rasulullah SAW. Berangkatlah Ali ke rumah Rasulullah, namun dia tidak bertemu dengan pemilik unta diperjalanan.

Setibanya di sana, Rasulullah menyambut kedatangnya dan berkata; “Wahai Ali, engkau datang kemari tentu ada sesuatu yang ingin disampaikan. Siapakah yang mau duluan menyampaikan, aku atau engkau?”

Mendapat pertanyaan itu, Ali menjawab; “Silahkan wahai Rasulullah, engkau dulu yang menyampaikan sesuatu.” Melalui wahyu yang diterimanya, Rasulullah SAW berkata; “Wahai Ali, tahukah engkai, siapakah orang yang menjual dan membeli unta itu?”

Ali bin Abi Thalib menjawab; “Tidak, ya Rasulullah.” Kemudian Rasul berkata lebih lanjut; “Orang yang menjual unta itu adalah malaikat Jibril, sedangkan yang membelinya adalah malaikat Mikail.”

Karena penasaran, Ali pun bertanya kepada Rasulullah; “Lalu, kepada siapakah aku harus membayar hutang 100 dirham ini?” Nabi Muhammad SAW menjawab; “Itu semua rizkimu, karena keikhlasanmu dalam mengeluarkan shadaqah.”

Melihat dari kisah diatas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan. Bahwa salah satu tauladan dari sahabat Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib. Yaitu dengan keikhlasan dan ketulusan yang benar-benar dari hati dan karena Allah SWT semata-mata.

Sedekah yang dikeluarkan walaupun dalam keadaan dan kondisi sulit serta sangat membutuhkan, namun Ali tetap ikhlas memberikan uang 6 dirham kepada orang lain yang lebih membutuhkan uang tersebut. Allah SWT pun langsung menggantinya dengan berlipat ganda, dari 6 dirham menjadi 300 dirham.

Selain kisah Ali bin Abi Thalib diatas, masih banyak lagi kisah yang mencerminkan spirit kebaikannya. Sebagai penutup, dibawah ini salah satu nasehat Ali bin Abi Thalib saat memberikan ceramah, yaitu sebagai berikut;

Ambillah 5 hal dariku, pertama, janganlah engkau mengharapkan sesuatu dari seseorang, kecuali
dari Allah SWT. Kedua, janganlah engkau takut terhadap apapun, kecuali takut kepada Allah SWT. Ketiga jangan segan-segan mempelajari hal yang belum engkau ketahui. Keempat, janganlah malu mengatakan tidak tahu, saat ditanya sesuatu yang tidak engkau ketahui. Dan kelima, hendaklah bersabar atas dasar iman, dan jadikan iman seperti kepala dalam tubuhmu.”

Ali bin Abi Thalib meninggal dunia di usia 63 tahun, hari Jum’at bulan Ramadhan. Ali termasuk dalam daftar orang yang pertama masuk surga. Rasulullah SAW bersabda; “Ali itu sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan, Allah dan Rasul-Nya sangat mencintainya.” (Machfudh/Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar: