Selasa, 01 Juli 2014

Pemimpin Berkarakter Al Qur’an, Pilihan Umat

Issue yang sedang hangat menjadi pembicaraan masyarakat saat ini, tak lain calon pemimpin negeri ini. Semua masyarakat bermuara kepada sebuah harapan besar, yaitu agar mendapat seorang pemimpin yang mampu meningkatkan kebaikan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Namun, adakah pemimpin bangsa kedepan ini memiliki karakter Al Qur’an?

Usaha dan upaya guna mendapatkan pemimpin yang memiliki karakter Al Qur’an tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan. Diperlukan pemahaman dan usaha yang keras dan bersatu padu dari semua lini masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia, tentang arti penting dan kriteria ideal sebagai referensi dalam memilih pemimpin di tanggal 9 Juli 2014 mendatang.

Mengacu yang berpedoman kepada Al Qur’an, cobalah menggali beberapa ayat yang menjelaskan kriteria pemimpin yang khas dan unik itu, berbeda dengan konsep lain yang bersumber dari pemikiran selain Al Qur’an. Berikut ini adalah ayat-ayatnya;

Al Qur’an Surah Al Anbiyaa’ Ayat 105, Allah SWT berfirman;

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur*) sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh.”

*) Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud A.S. Dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah kitab Taurat.

Al Qur’an Surah Al Anbiyaa’ Ayat 73, Allah SWT berfirman;

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah.”

Al Qur’an Surah Al Hajj Ayat 41, Allah SWT berfirman;

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Masih banyak lagi ayat-ayat dalam Al Qur’an yang memberikan petunjuk mengenai kriteria pemimpin yang diridhai oleh Allah SWT. Namun demikian, mengacu kepada tiga ayat di atas, dapat digaris-bawahi beberapa kriteria yang bisa menjadi referensi dalam memilih seorang pemimpin.

Kriteria tersebut adalah antara lain, sebagi berikut;

Mereka yang Menjadi Hamba Allah SWT yang Shaleh
Pemimpin bangsa yang akan dipilih, hendaknya orang yang memiliki karakter sebagai hamba Allah SWT yang shaleh. Secara khas, Allah SWT menggunakan istilah abdi (hamba) dalam ayat-ayat di atas. Ia (Allah) merujuk kepada seseorang yang orientasi hidupnya semata-mata hanya untuk mendapatkan keridhaan Illahi.

Jadi, seorang pemimpin bukanlah mereka yang haus (menghamba) terhadap kekuasaan, kedudukan, harta, dan pujian manusia. Bahkan ketika Rasulullah SAW ditanya oleh malaikat Jibril, “Apakah engkau ingin menjadi seorang hamba atau raja?” Rasulullah SAW menjawab; “Aku ingin menjadi seorang hamba.”

Memberi Petunjuk Sesuai dengan Perintah Allah SWT
Pemimpin yang diharapkan Al Qur’an, ketika mengambil keputusan, maka melalui potensi yang dimilikinya dia akan menghambil dari petunjuk Allah SWT (Al Qur’an), dan mengaplikasikan syariar-Nya di muka bumi.

Namun demikian, pemimpin tersebut bukanlah wakil Tuhan atau titisan dewa yang ucapannya bersifat mutlak. Ia adalah manusia biasa yang bisa juga melakukan kesalahan. Seperti ketika dimasa khalifah Abu Bakar R.A, ia berkata; “Sekiranya aku dalam ketaatan, maka taatilah aku. Namun jika aku melanggar, maka luruskanlah aku.”

Menebarkan Kebaikan, Amar Ma’ruf Nahyi Munkar
Melihat kriteria diatas, maka seorang pemimpin haruslah mereka yang dengan kekuasaannya berorientasi kepada menebarkan kebaikan, menyuruh masyarakat untuk berbuat kebaikan, serta melarang segala bentuk kemaksiatan, kedholiman dan kemunkaran.

Melaksanakan Sholat dan Menunaikan Zakat
Selanjutnya, mereka harus memang komitmen untuk menjalankan shalat dan menunaikan zakat, baik secara perorangan maupun secara umum (memasyakarat).

Tentunya muncul pertanyaan, kenapa shalat dan zakat jadi kriteria dalam memilih pemimpin? Dimana hubungannya shalat dengan kinerja seorang pemimpin dengan sebuah negara dan bangsa?

Menjawab pertanyaan tersebut, coba digali lagi dari beberapa rahasia yang telah diterangkan dalam Al Qur’an. Yaitu sebagai berikut;

Mengerjakan Shalat
Shalat mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran agama Islam. Perintah shalat diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara yang istimewa pula, dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Kalau perintaha lain (seperti zakat, puasa dan haji) diturunkan di muka bumi, maka perintah shalat diterima oleh Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha, lokasinya berdekatan dengan surga. Seperti yang diterangkan dalam Surah An Najm Ayat 13 – 15, Allah SWT berfirman;

Dan, Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha*), di dekatnya ada syurga tempat tinggal.”

*) Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika mi'raj.

Oleh karena, para ulama memberikan kesimpulan bahwa apabila seseorang menjaga kualitas dan waktu shalatnya, maka hakikatnya ia berada dalam surga yang penuh dengan kenikmatan, keselatan dan kebaikan.

Shalat Sebagai Solusi Atas Masalah Kehidupan
Al Qur’an Surah Al Ma’arij Ayat 19 – 22, Allah SWT berfirman;

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”

Manusia, hakikatnya memiliki karakter dasar suka berkeluh kesah, bahkan terbilang labil secara psikologis, ketika ditimpa permasalahan. Tidak terlepas juga dengan seorang pemimpin, karena ia juga manusia maka akan menghadapi berbagai macam persoalan selama berkuasa.

Namun demikian, Allah SWT telah mengisyaratkan, bahwa solusi untuk menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan, tak lain dan tidak bukan dengan mendirikan shalat.

Sudah dengan jelas, Allah SWT menjelaskan melalui firman-firman-Nya, mengenai beberapa kriteria pemimpin ideal sebagai rujukan dalam memilih pemimpin negara dan bangsa ini. Bahkan jika melihat kebelakang atau sejarah, sudah banyak peristiwa yang membuktikan kebenarannya.

Salah satu sejarah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, yaitu kisah Umat bin Abdul Aziz. Ia seorang hamba yang shaleh, taat menjalankan syari’at Illahiah, amar ma’ruf nahi munkar, dan berkomitmen dalam menjalankan shalat dan zakat.

Suatu saat, ketika Umar bin Abdul Aziz minum madu kesukaannya. Setelah dia meminum madu tersebut, beliau bertanya kepada pembantunya. “Dari manakah madu yang barusan dimakan?” pembantunya menjawab, bahwa madu tersebut dibeli dari suatu daerah di Maroko yang diantar langsung oleh tukang pos.

Seketika itu, ia berusaha memuntahkan madu yang sudah masuk kedalam perutnya, dan ia berkata, “Demi Allah, madu ini haram dimakan, karena dibeli dengan menggunakan kendaraan negara.”

Anas bin Malik, seorang sahabat nabi yang usianya sampai pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Azis. Ketika ditanya mengenai rahasia kesuksesan Umar bin Abdul Azis dalam memimpin, beliau menjawab, “Saya tidak pernah melihat pemuda seperti Umar bin Abdul Azis yang shalatnya sama persis seperti Rasulullah.”

Meskipun masa waktu kepemimpinan Umar bin Abdul Azis relatif singkat, hanya sekitar 2,5 tahun. Namun ia berhasil membawa perubahan pada kota Madinah secara signifikan. Misalnya, dari semula krisis politik dan ekonomi menjadi sebuah wilayah yang aman, makmur dan sejahtera.

Saking makmurnya, pada masa Umar bin Abdul Azis, sukar mendapatkan orang yang mau menerima zakat. Sehingga hasil zakat yang terkumpul di baitul mal, diberikan kepada pemuda-pemuda yang akan menikah, kepada orang-orang yang tidak mampu untuk naik haji, bahkan dibelikan gandum untuk ditaburkan di padang pasir untuk di makan oleh berbagai makhluk hidup.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka Allah SWT telah dengan tegas memberi petunjuk kepada hamba-Nya, mengenai gambaran kriteria-kriteria yang harus menjadi pedoman saat memilih pemimpin.

Semoga pada tanggal 09 Juli 2014 mendatang, Negara dan Bangsa Indonesia ini, tidak salah dalam menentukan siapa pemimpin kedepannya. Sehingga negara dan bangsa ini, mendapat keberkahan dan kemakmuran baik di masa sekarang maupun di masa mendatang.

Dan sebelumnya, sang Fakir mohon maaf, tidak ada maksud menggurui. Semoga bermanfaat. Aammiinn. (Machfudh/Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar: